dianal06's blog

Just another weblog

 

Waspadai Hipertensi saat Kehamilan…

 

KEHAMILAN adalah suatu peristiwa yang dinantikan oleh setiap wanita yang sudah menikah. Dalam waktu 9 bulan akan dijalani proses kehamilan yang bersejarah bagi masing-masing ibu sampai pada saatnya kelahiran sang buah hati yang sangat dinantikan. Namun tidak semua kehamilan dapat berjalan dengan lancar, terdapat beberapa penyulit yang bisa terjadi pada masa kehamilan ini sehingga dapat mengancam jiwa ibu maupun janin.

Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah hipertensi dalam kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan adalah suatu penyakit yang sering dijumpai pada wanita hamil, di situ ditemukan adanya kelainan berupa peningkatan tekanan darah pada pemeriksaan ibu hamil. Pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolic berada di atas 140/90 mmHg,

Pregnancy-induced hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis) bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada ibu hamil bisa sedang ataupun tergolang parah/berbahaya, Seorang ibu hamil dengan tekanan darah tinggi bisa mengalami preeklamsia dimasa kehamilannya itu. Preeklamsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila terjadi kekejangan sebagai dampak hipertensi maka disebut eklamsia.

Kejadian hipertensi dalan kehamilan cukup tinggi ialah 5-15%, merupakan satu di antara tiga penyebab mortalitas (kematian) dan morbiditas (kejadian) ibu bersalin selain infeksi dan pendarahan. Hal itu dikarenakan angka kejadian yang tinggi dan penyakit ini mengenai semua lapisan masyarakat. Termasuk, beberapa waktu terakhir terjadi pada seorang figur publik yang cukup familiar dan sayang sekali nyawanya tidak dapat tertolong.

Akibat Hipertensi pada Wanita Hamil

Tekanan darah yang tinggi menyebabkan berkurangnya ‘kiriman’ darah ke plasenta.  Sudah pasti ini akan mengurangi suplai oksigen dan makanan bagi bayi.  Akibatnya, perkembangan bayi pun jadi lambat, dan memicu terjadinya persalinan dini.  Lebih fatal lagi, penyakit hipertensi ini bisa menyebabkan lepasnya jaringan plasenta secara tiba-tiba dari uterus sebelum waktunya.

Pada kasus tekanan darah tinggi kronis atau gestational hypertension pada ibu hamil yang serius, bisa berkembang menjadi penyakit pre eklamsi atau keracunan pada kehamilan.  Nah, penyakit inilah yang sangat mengancam jiwa ibu dan bayi yang dikandungnya, jika tidak segera ditangani.  Sebab, serangannya bersifat mendadak dan mematikan.  Ini dikenal dengan eklamsi.

Pre Eklamsi

Pre eklamsi biasanya ‘menjangkiti’ wanita hamil ketika usia kandungannya memasuki 20 pekan.  Meski pada wanita hamil yang sehat dan tak menderita sakit tekanan darah tinggi sekalipun.

Jika dokter kandungan atau bidan jeli, banyak gejalanya yang bisa dilihat pada ibu hamil secara kasat mata.  Selain tekanan darah yang tinggi -di atas 140/90–, biasanya diiringi dengan pembengkakan pada pergelangan kaki dan wajah dan tingginya kadar protein pada urin ibu hamil.  Tingginya kadar protein pada urin itu sudah jadi pertanda adanya gangguan pada ginjal, sebagai efek dari pre eklamsi.  Sakit kepala yang berlangsung lama, naiknya berat badan secara tiba-tiba, penglihatan mendadak tidak jelas atau jadi sensitif pada cahaya, dan sakit pada bagian perut juga gejala awal pre eklamsi.
Itulah salah satu manfaat memeriksakan diri dan bayi ke bidan atau dokter kandungan secara rutin.  Kunjungan ini akan memudahkan para medis itu memonitor tekanan darah dan kadar protein pada ibu hamil, sehingga kemungkinan berkembangnya pre eklamsi bisa dicegah sedini mungkin.

Pre eklamsi berakibat fatal jika tidak segera ditindak.  Ia merusak plasenta sehingga menyebabkan bayi lahir dalam keadaan tidak bernyawa, atau lahir hidup namun berat badannya rendah, atau lahir prematur.  Penyakit ini juga membahayakan ginjal, hati, dan otak ibu hamil.  Pada beberapa kasus, bisa menyebabkan ibu hamil mengalami koma.  Bahkan di Amerika, pre eklamsi adalah pembunuh ibu hamil nomor 2 dan penyebab timbulnya komplikasi pada bayi.

Gejala dan Pengobatan
Gejala yang sering dirasakan oleh penderita adalah nyeri kepala, penglihatan kabur, penglihatan ganda, nyeri di daerah lambung, mual atau muntah. Seringkali gejala subjektif tersebut didapatkan pada preeklamsi berat, jarang ditemukan pada preeklamsi ringan. Sedangkan perubahan yang didapatkan pada penderita antara lain (trias tanda utama): pertambahan berat badan yang berlebihan, bengkak, hipertensi, dan akhirnya proteinuria (ditemukannya protein dalam urin) serta kelainan lain dalam pemeriksaan lab.

Setelah mengenal lebih jauh mengenai definisi dan pembagiannya, selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pengobatannya sendiri. Pengobatan ini meliputi terapi primer yaitu pencegahan yang sebenarnya tidak dapat mencegah penyakit ini sepenuhnya, namun dengan diet yang benar (tinggi protein, rendah lemak, kaborhidrat dan garam, konsumsi antioksidan/buah-buahan) dan istirahat yang baik serta pengawasan yang rutin pada kehamilan diharapkan dapat menurunkan insidens penyakit ini.

Apabila penyakit ini telah ditemukan, maka terapi yang diberikan bertujuan untuk mencegah terjadinya preeklamsia berat dan eklamsia dengan menggunakan obat-obatan maupun perubahan pola hidup (diet, merokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang), serta melahirkan janin hidup dengan trauma sekecil-kecilnya. Jika penyakit ini sudah ditemukan, maka tujuan utama adalah mencegah kejang, mencegah kerusakan organ lebih lanjut, dan melahirkan bayi sehat.

Waspada, Meski Jarang Terjadi

Masalah tekanan darah tinggi pada ibu hamil terjadi hanya 6%-8% pada ibu-ibu hamil di Amerika.  70% diantaranya diderita oleh mereka yang baru pertama kali hamil.  Jumlah wanita yang  mengalami gestational hypertension pun tidak berubah sejak satu dekade lalu.  Hanya saja, jumlah kasus pre eklamsi di sana mengalami peningkatan.

Riset yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics, menyebut meningkatnya jumlah penderita pre eklamsi disebabkan oleh makin banyaknya wanita hamil di usia rawan (30-45 tahun).  Kecenderungan ini sudah berlangsung 3 dekade.  Selain itu kehamilan kembar juga menyebabkan munculnya pre eklamsi.  Di negeri Paman Sam, jumlah kelahiran kembar tiga ke atas melonjak hingga 400% dan 1000% pada wanita hamil yang berusia 40-an.

Lantas wanita hamil macam apa yang bisa menderita serangan pre eklamsi?

  1. Wanita yang menderita tekanan darah tinggi kronis sebelum ia hamil.
  2. Wanita yang tekanan darahnya meningkat tajam di awal kehamilannya.
  3. Wanita yang hamil pada umur dibawah 20 tahun dan di atas 40 tahun.
  4. Wanita yang hamil kembar
  5. Wanita yang menderita sakit diabetes, sakit ginjal, rheumatoid arthritis, lupus, atau scleroderma.

Namun, fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh pre eklamsi hendaknya jangan mengurunkan niat Anda untuk memiliki keturunan.  Bahkan wanita yang menderita sakit tekanan darah tinggi pun bisa hamil dan melahirkan dengan selamat.  Asal, ia -dengan rekomendasi dokter- sebelum hamil memulai program mengontrol tekanan darah hingga selesai melahirkan kelak.  Wanita hamil yang tekanan darahnya tinggi juga harus rajin mengikuti kelas prenatal care.

Tips Untuk Wanita yang Menderita Hipertensi sebelum hamil:

  1. Pastikan tekanan darah Anda selalu berada dalam pengawasan dokter/bidan.
  2. Diskusilah dengan dokter kandungan efek yang ditimbulkan oleh hipertensi, baik pada bayi dan ibunya.
  3. Diskusikan dengan dokter, apakah Anda perlu mengubah dosis obat atau menghentikan penggunaan obat hipertensi itu sama sekali.
  4. Jangan sekali-kali menghentikan atau mengubah dosis obat hipertensi tanpa sepengetahuan dokter Anda.

Tips Untuk Wanita Hamil yang Hipertensi:

  1. Tunaikan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan atau bidan
  2. Mintalah tes urin, tensi, dan berat badan tiap kali kontrol ke dokter.
  3. Hindari minuman alkohol dan tembakau (rokok)
  4. Mintalah dokter lebih teliti memantau perkembangan bayi dan detak jantungnya, terutama pada akhir trimester, guna mengetahui sedini mungkin adanya komplikasi pada bayi
  5. Awasi betul gerakan bayi dalam kandungan, waspadalah bila tak terasa ada gerakan bayi.  Segeralah ke dokter.
  6. Kurangi garam dalam menu harian Anda
  7. Perbanyak istirahat

Penyakit hipertensi dalam kehamilan adalah salah satu masalah kesehatan yang harus kita hadapi bersama-sama, tidak hanya oleh salah satu pihak saja misalnya tenaga kesehatan saja. Semuanya harus berperan, dimulai dari pasien, keluarga, suami, orangtua pasien, bahwa penyakit ini adalah penyakit yang serius dan harus ditangani dengan baik agar kehamilan dapat berjalan dengan baik dengan ibu selamat dan janin sehat. Sehingga, bersama kita dapat mewujudkan Indonesia sehat 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Anonom. 2010. Askep hipertensi pada ibu hamil http://putrisayangbunda.blog.com/2010/08/29/askep-hipertensi-pada-ibu-hamil/ [15 September 2010]

Bonita. 2010. Hipertensi pada Kehamilan http://www.permatacibubur.com [15 September 2010]

Gibson P, et al. 2010. Hypertension and Pregnancy. https://profreg.medscape.com [18 September 20010]

Mahan LK, Escott-Stump S. 2004. Krause’s Food, Nutrition and Diet Therapy. USA: Elsevier

Muhamad A. 2008. Darah Tinggi / Hipertensi. http://www.rsbk-batam.co.id [18 September 2010]

Roesme J, Susalit E,  Suhardjono, Rahardjo P. 2008 Hipertensi dengan Kehamilan Subbagian Ginjal-Hipertensi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam [Jurnal], Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

 

Welcome to Diana’s Blogs

 

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!